Ini Kronologi Penangkapan Warga Wadas Saat Pengukuran Tanah Versi Penolak

 Ini Kronologi Penangkapan Warga Wadas Saat Pengukuran Tanah Versi Penolak

Polisi menangkap setidaknya 64 orang saat pengukuran tanah di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi, membantah terdapatnya kekerasan yang menimpa ibu-ibu di Desa Wadas.

"Tidak ada, tidak ada," kata Luthfi saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat menemui warga Desa Wadas yang sudah sepakat ditunaikan pengukuran tanah, Rabu (9/2/2022).



Warga penolak pengukuran lahan menyayangkan Ganjar dan Kapolda hanya menemui warga yang sudah menyetujui pengukuran. Padahal, Ganjar mengeklaim mengakses ruang dialog bagi warga, baik yang sepakat maupun yang belum sepakat pengukuran lahan jasa pengaspalan jalan .


Salah seorang warga Desa Wadas, Siswanto, menceritakan, kronologi momen penangkapan puluhan warga Desa Wadas. Menurut Siswanto, seluruh bermula pada Ahad (6/2/2022) sore dikala warga melihat banyak polisi berkumpul di Polsek Bener dan belakang Polres Purworejo. Warga terhitung melihat polisi mendirikan tenda-tenda.


Saat itu, warga tetap bingung aparat kepolisian ingin ke Wadas atau tersedia kepentingan lain. Siswanto menuturkan, salah satu warga yang menghubungi Polres Purworejo memperoleh jawaban kalau para polisi hanya ingin kunjungan ke Purworejo. Tidak tersedia Info soal mengukur tanah Jasa Pengukuran Tanah Jakarta .


Senin (7/2/2022) pagi, lebih dari satu warga melihat polisi berpatroli di desa-desa tetangga lebih kurang Desa Wadas. Sebab, pos-pos polisi tidak pernah tersedia di Desa Wadas. Siswanto menyebut, aparat menggelar rapat di luar Desa Wadas dan rumah-rumah makelar yang tersedia di dekat Desa Wadas.


Siswanto menegaskan, mereka tidak tersedia kepentingan di Desa Wadas. Hanya tersedia lebih dari satu warganya yang mempunyai tanah di Wadas. Tidak banyak, tidak hingga 20-30 orang. Setelah itu, warga Desa Wadas tiba-tiba diminta berkumpul di Masjid Krajan.


Warga secara spontan kumpul di Masjid Krajan dan lebih kurang 10.00 WIB polisi masuk ke Wadas. Awalnya, yang masuk ke Wadas aparat Brimob mempunyai senjata dan motor. Mereka melepaskan poster-poster penolakan penggusuran di lebih kurang Desa Wadas. Setelah itu, polisi bersenjata lengkap mempunyai tameng, kemudian orang-orang BPN dan disusul orang-orang yang pro pengukuran lahan.


Di pos-pos sendiri, ibu-ibu memang biasa berkumpul untuk memproduksi bambu apus jadi kerajinan besek untuk dijual. "Alatnya golok untuk belah bambu, pisau untuk menyirat, gergaji untuk memotong bambu, itu disita seluruh sama polisi. Polisi berpikiran warga mempunyai senjata tajam," ujar Siswanto.


Padahal, berasal dari pagi ibu-ibu sudah mengerjakan itu, namun dikarenakan diminta kumpul ke Masjid Krajan alat-alat itu ditinggalkan. Sekitar 11.00 WIB, polisi datang ke Masjid Krajan bersama kuantitas ratusan dikarenakan seisi jalur hingga penuh.


Sampai pada saat Zhuhur, polisi mengaku ingin shalat Zhuhur dan mengajak warga untuk mengambil air wudhu. Setelah ke luar, ternyata warga langsung dimasukkan ke mobil-mobil polisi. Siswanto menegaskan, tidak tersedia ricuh lebih-lebih provokasi.


Sebab, ia menambahkan, warga Desa Wadas yang dibawa yang tengah duduk-duduk, mujahadah, namun tiba-tiba ditarik dimasukkan ke mobil-mobil polisi. Siswanto menilai, kalau tersedia warga yang berontak amat lumrah dikarenakan tiba-tiba ditangkap. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Kerja Jasa Convert Tukar Pulsa: Inovasi Baru dalam Transformasi Nilai Pulsa

Perbaikan Mobil Matic Surabaya: Bukan Sekadar Bengkel

Simak Tips Backpaker ke Jogja untuk Liburan Murahmu Berikut Ini!